GARANGSPEAKUP.COM | JAKARTA— Empat perwakilan pemuda asal Aceh, Arbi Riyansyah, Maulana Habib, Sarah Salsabil, dan Humaira Hasmi, hadir menyampaikan kondisi terkini daerahnya di hadapan Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir serta perwakilan pemuda se-Indonesia dalam rangkaian kegiatan Wirasena Youth Camp 2026 di Jakarta 21-30 Oktober 2026. Kegiatan ini digelar dalam rangka menyambut Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada 28 Oktober.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Dalam kesempatan tersebut, para delegasi mengikuti sesi deklarasi yang berisi penyampaian isu strategis dan harapan bagi masa depan Indonesia. Membawa suara dari tanah Aceh, perwakilan pemuda menyoroti realitas berat yang dihadapi generasi muda akibat krisis lingkungan yang berkepanjangan.

“Berkaitan dengan pemuda, kita mulai dari realitas hari ini di mana Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Saat ini kita menghadapi masalah karhutla. Sebelum ini semua, kita juga tidak lupa hampir setahun permasalahan bencana banjir dan longsor di Sumatera belum terselesaikan,” ujar Arbi.

Delegasi menekankan bahwa generasi muda di wilayah terdampak saat ini tidak sedang memikirkan pencapaian besar, melainkan berjuang melewati fase kritis akibat trauma dan kerugian masif yang dialami.

 

“Bagaimana kita bicara tentang masa depan sementara saat ini para pemuda berada di fase bertahan hidup dan harus bangkit dari trauma yang berulang? Karena dampak yang dirasakan adalah kehancuran materil, korban jiwa, dan psikologis,” tegasnya.

 

Meski demikian, pihak pemuda menyampaikan optimisme dan desakan agar keterlibatan pemuda daerah mendapat porsi yang adil dalam pembangunan nasional.

 

“Jadi, kita juga tidak mau berlarut, tapi penting untuk menjangkau ke daerah dan berikan kesempatan serta ruang yang sama bagi kami di daerah,” tambahnya.

 

Rangkaian kegiatan tersebut kemudian ditutup dengan pementasan seni teaterikal bertajuk “Ibu, Kepada Siapa Aku Bersumpah” yang diinisiasi oleh seluruh perwakilan pemuda Sumatera dan OKP Persis. Pementasan ini menampilkan identitas tujuh daerah, yaitu Aceh, Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Bengkulu, dan Sumatera Barat melalui panggilan ibu, aksen, bahasa, ritme tubuh, dan gestur tanpa dikemas sebagai parade provinsi.

 

Pertunjukan menyuguhkan kontras suasana yang tajam, mulai dari kehangatan ingatan masa kecil yang riuh hingga adegan yang menggambarkan amukan api dan banjir. Di penghujung acara, seluruh pemain menutup pertunjukan dengan mengarahkan sumpah personal yang tenang dan menghantam langsung kepada sang Ibu, “Kami bersumpah. Menjagamu.” serta disambut dengan dengan tangisan dan tepuk tangan pemuda seluruh Indonesia.